Translate

Rabu, 05 Juni 2013

ARTIKEL PENDIDIKAN

Definisi Kekerasan Menurut Usia
 Artikel Pendidikan dari Sarjanaku .com
 

Pengertian Kekerasan Makalah Bentuk Dampak Klasifikasi Kekerasan Menurut Usia - Pengertian kekerasan adalah suatu tindakan yang bersandar pada penggunaan ketegasan ekstra.  Definisi Kekerasan adalah perilaku yang bertentangan dengan kelembutan dan sesuatu yang natura.
 
 Pengertian Kekerasan
 
Bentuk kekerasan   
1.  Penganiayaan Fisik
Yaitu cedera fisik sebagai akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun.

2.  Kelalaian
Kelalaian ini selain tidak sengaja, juga akibat dari ketidak tahuan atau kesulitan ekonomi.
Bentuk kelalaian ini antara lain yaitu :
  • Pemeliharaan yang kurang memadai, yang dapat mengakibatkan gagal tumbuh  (failure to thrive), anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan.
  • Pengawasan yang kurang, dapat menyebabkan anak mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa. 
  • Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan meliputi : kegagalan merawat anak dengan baik misalnya imunisasi, atau kelalaian dalam mencari pengobatan sehingga memperburuk penyakit anak. 
  • Kelalaian dalam pendidikan meliputi kegagalan dalam mendidik anak untuk mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkannya atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

3.  Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman kata-kata yang merendahkan anak, atau tidak mengakui sebagai anak. Keadaan ini sering kali berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasikan anak dari lingkungan atau hubungan sosialnya atau menyalahkan anak secara terus menerus.

4.  Penganiayaan seksual
Mengajak anak untuk melakukan aktivitas seksual yang melanggar norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat, dimana anak tidak memahami/tidak bersedia. 
Aktivitas seksual dapat berupa  semua bentuk oral genital, genital, anal, atau sodomi.  Penganiayaan seksual ini juga termasuk incest yaitu penganiayaan seksual oleh orang yang masih ada hubungan keluarga.

5.  Sindrom Munchausen
Sindrom ini merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat-buat dan pemberian keterangan palsu untuk menyokong tuntutan. Hal ini biasanya di lakukan orang tua karena ingin menutupi kejadian yang sebenarnya (Soetjiningsih, 1998:164).
  • Anak 0-5 tahun reaksi yang timbul adalah cemas terhadap perpisahan, perilaku agresif,  kehilangan kemampuan yang baru dicapai, dan mimpi buruk dengan mengigau.
  • Anak 6-12 tahun reaksi yang timbul adalah kesulitan belajar, yang diakibatkan oleh adanya kesulitan dalam berkonsentrasi dan kegelisahan, gangguan stress pasca trauma, adanya interaksi sosial yang buruk, dengan perilaku agresif yang menonjol, reaksi depresi, kesulitan dalam tidur, dan bertingkah laku seperti anak yang lebih kecil.
  • Anak 13-18 tahun reaksi yang timbul adalah merusak diri sebagai cara mengatasi rasa marah dan depresi, melakukan berbagai perilaku beresiko tinggi seperti  menggunakan zat-zat terlarang, melakukan tindakan anti sosial, menarik diri dari lingkungannya sampai pada isolasi diri, perubahan kepribadian, dan keluhan-keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan secara pemeriksaan fisik atau laboratorium

Pemicu Kekerasan 

Ada beberapa hal yang secara bersama saling menguatkan pemicu terjadinya beberapa perilaku yang mereduksi kualitas keluarga
  • Eksistensi keluarga yang semakin virtual (maya), antara ada dan tiada, apalagi semakin orang tua yang sibuk berkarir di luar rumah.
  • Kemiskinan
    Kemiskinan membuat orang tua tega memperkerjakan anaknya apalagi, masih sangat kokohnya pola patriarki membuat anak tidak bisa berbuat banyak ketika dipaksa membantu mencari uang
  • Terbatasnya akses pendidikan
    Sedikitnya ada 6,6 juta anak (data tahun 2000) yang tidak bisa sekolah serta 7,2 juta siswa SD /SLTP terancam putus sekolah.
    Adanya waktu luang anak akibat tidak sekolah serta memburuknya ekonomi keluarga memperbesar peluang orang tua untuk mendesak anaknya bekerja.
  • Pemanfaatan perkembangan teknologi yang tidak diawasi
    Teknologi bersifat netral. Ia  bisa menguntungkan, namun bisa merugikan, bahkan cenderung mengarah ke sisi yang merugikan bisa lepas dari pengawasan. Televisi misalnya banyak acara yang mendidik, sarat pengetahuan, tapi  banyak juga acara “sampah”.

    Tiada pengawasan membuat anak tertarik menonton acara sampah. Pada gilirannya, itu bisa memicu perilaku menyimpang, bahkan agresif.

    Moore dan Parton berpendapat  (Moore, 13-16 Parton 1985:152-174) Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kekerasan kepada anak disebabkan oleh faktor individu namun ada juga argumen karena faktor struktur sosial.
  • Faktor individu
    Menekankan bahwa  orang dewasa yang “berbakat” menganiaya anak mempunyai latar belakang masa kecil yang juga penuh kekerasan, ada juga orang dewasa menganggap anak seharusnya memberikan dukungan dan perhatian kepada orang tua dengan senantiasa memenuhi harapan orang tua sehingga  jika tidak anak harus dihukum. Selain itu, orang dewasa yang tidak tahu pertumbuhan perkembangan anak sehingga jika anak tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkan orang dewasa karena anak belum mampu maka orang dewasa menjadi marah.
  • Faktor struktur sosial
    Memandang perlakuan salah terhadap anak terjadi karena sesorang tidak mempunyai jaringan sosial yang memuaskan dan tidak mendukung dirinya dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya hubungan suami istri yang tidak harmonis, masalah di tempat kerja dan lain-lain. ( Desi Natalliany , 2008). 
Dampak Kekerasan 

1.  Dampak fisik anak 
  • Lecet hematom, luka bekas jahitan, luka bakar, patah tulang, pendarahan retina akibat dari adanya subdural hemtom, dan adanya kerusakan organ dalam lainnya.
  • Sekuele/cacat sebagai akibat trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan syaraf, gangguan pendengaran, kerusakan mata, dan cacat lainnya.

2.  Dampak tumbuh kembang anak 
  • Pertumbuhan fisik anak kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapatkan perlakuan sama.
  • Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan yaitu kecerdasan, emosi, konsep diri, agresif, hubungan sosial yang buruk.

3.  Dampak dari penganiayaan seksual
Tanda – tanda penganiayaan seksual antara lain adalah : 
  • Tanda akibat trauma atau infeksi lokal, misalnya nyeri perineal, sekret vagina, nyeri dan pendarahan anus.
  • Tanda gangguan emosi misalnya konsentrasi berkurang, enuresis, enkopresis, anoreksia atau perubahan tingkah laku. 
  • Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya.

4.  Sindrome Munchausen
Gambaran sidrom ini terjadi dari gejala : 
  • Gejala yang tidak biasa atau tidak spesifik.
  • Gejala terlihat hanya kalau ada orang tuanya. 
  • Cara pengobatan oleh orang tuanya yang luar biasa 
  • Tingkah laku orang tuanya yang berlebihan 
  • Adanya penyakit yang sama  tetapi tidak biasa pada sepupu atau orang tuanya.

5.  Akibat lain dari perlakuan salah tersebut, anak akan melakukan hal yang sama di kelak kemudian hari terhadap anak-anaknya  (Soetjiningsih, 1998 : 168).
Daftar Pustaka Pengertian Kekerasan Makalah Bentuk Dampak Klasifikasi Definisi Kekerasan Menurut Usia
Desi Natalliany. (2006).  Kitalah Salah Satu Perlakunya.http:// Blogsome.com   (acessed on Friday, April, 10th, 2008.03.00 pm).  
Soetjiningsih. (1998). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.

Selasa, 04 Juni 2013

JERMAN MENCIPTAKAN SEKOLAH MASA DEPAN

Jerman

Menciptakan Sekolah Masa Depan

Pengajar yang lelah, siswa yang stres dan orang tua yang tidak puas. Semakin banyak muncul inisiatif yang menuntut reformasi pendidikan yang mendasar.
Sebuah sekolah dasar di kota Dortmund utara, dikelilingi bangunan tinggi yang merupakan hunian sekitar 1000 orang dari 30 negara. Kemiskinan, pengangguran dan masalah bahasa menandai keseharian anak-anak di kawasan ini. "Murid-murid kami hanya punya satu peluang, yaitu pendidikan," ujar Gisela Schultebraucks-Burgkart, kepala sekolah tersebut sejak tahun 1994.
Bantuan bahasa, pelajaran terpadu, lokakarya dan kerjasama yang intensif dengan orangtua membawa hasil positif. Jumlah yang cukup tinggi, yaitu 44 persen dari lulusan sekolah dasar itu berhasil memasuki sekolah menengah bergengsi "Gymnasium" yang memungkinkan lulusannya untuk kuliah. Tahun 2006 sekolah ini menerima penghargaan "Deutscher Schulpreis" untuk konsepnya itu. Sejak itu sekolah ini menjadi panutan untuk bagaimana sebuah sekolah yang terletak di tengah-tengah kawasan sosial rawan, bisa berhasil.
 
Berpaling dari pelajaran frontal dan tekanan berprestasi
Pada tahun 1994, kepala sekolah usia 61 tahun itu bisa dilihat sebagai perintis dengan idenya untuk membantu siswa secara individual dan kerjasama dengan orangtua. Saat ini banyak sekolah Jerman yang ingin berpaling dari pelajaran frontal, tekanan berprestasi dan menyisihkan siswa yang lemah.
***ACHTUNG: Bilder nur zur Berichterstattung über das Projekt Schule im Aufbruch verwenden!!!***
Der Bildungsforscher Gerald Hüther mit Margret Rasfeld, Schulleiterin der Evangelischen Schule Berlin Zentrum.
Copyright: Charlotte Schuchard
Angeliefert von Claudia Unseld am 28.5.2013-
Gerald Hüther
Semakin banyak orang menginginkan reformasi mendasar dalam pendidikan sekolah di Jerman. Pasalnya di Jerman, peran orangtua sangat menentukan dalam keberhasilan pendidikan sekolah anak. Hal ini telah membuat kegagalan banyak anak imigran dan anak dari keluarga yang secara sosial terabaikan.
 
Reformasi "dari bawah"
"Kami butuh perubahan radikal dalam sistem sekolah kami," ujar Margret Rasfeld, direktur Pusat Sekolah Evangelis Berlin. Karena perubahan itu tidak datang "dari atas," artinya dari yang berwenang. Rasfeld dan seorang periset ilmu otak, Gerald Hüther serta sejumlah pakar pendidikan lainnya membentuk sebuah inisiatif yang disebut "Kebangkitan Pendidikan".
***ACHTUNG: Bilder nur zur Berichterstattung über das Projekt Schule im Aufbruch verwenden!!!***
Die Roadshow Lernlust unterwegs.
Copyright: Charlotte Schuchard
Angeliefert von Claudia Unseld am 28.5.2013-
Roadshow
Berbagai inisiatif dari sejumlah organisasi pendidikan lainnya juga menginginkan hal yang serupa. "Sekolah pada abad ke-21 ini mengemban tugas yang berbeda daripada zaman sebelumnya," tegas Hüther. "Sekarang tidaklah penting untuk menghafal buta, tetapi kemampuan untuk memikul tanggung jawab di dalam dunia yang sangat rumit."
 
Pembimbing bantu perubahan
Inisiatif baru ini sudah aktif dilaksanakan, misalnya melalui "roadshow gairah belajar" di sebelas kota Jerman. 16 kemitraan regional berhasil terbentuk dengan koordinasi sebuah biro pusat.
Selain kerja sama dengan berbagai sekolah, biro kerjasama ini juga menyediakan pembimbing yang mengiringi proses reformasi. Ali Döhler, seorang pelatih, mengatakan, "Sekolah-sekolah mendapat tekanan besar untuk meningkatkan prestasi siswa. Namun di sisi lain, tidak semua siswa menghasilkan prestasi yang sama." Jadi metode klasik belajar dan mengajar kewalahan menghadapi tuntutan ini.
 
Perubahan struktur, kemudian perubahan pembelajaran
***ACHTUNG: Bilder nur zur Berichterstattung über das Projekt Schule im Aufbruch verwenden!!!***
Der Schüler Paul Erchinger im Unterricht an der Evangelischen Schule Berlin-Zentrum
Copyright: Ev. Schule Berlin-Zentrum
Angeliefert von Claudia Unseld am 28.5.2013-
Paul Erchinger
Bagi Döhler yang menentukan adalah membangun hubungan individu dengan masing-masing siswa. Untuk itu dibutuhkan perubahan struktur. Misalnya, kelas sebisanya dibagi dua. Ia juga menyarankan untuk tidak lagi mengajar secara frontal, tetapi siswa diberikan kemungkinan untuk menentukan, bagaimana mereka menggarap tema pelajaran. Pengajar mengawasi proses pembelajaran ini sebagai "tutor".
Menurut Döhler, reformasi ini memerlukan lima sampai enam tahun. Sedangkan reformasi "dari bawah" butuh lebih lama lagi. Namun ia yakin, upaya ini akan berhasil karena memang sudah waktunya. Paul Erchinger, 14 tahun, adalah siswa di sebuah kelas yang heterogen di Berlin, artinya ada siswa yang pintar sekali, ada yang biasa-biasa saja. Dia merasa jauh lebih baik kalau dapat belajar secara mandiri dengan temponya sendiri. Siswa-siswa kelas ini memang menunjukkan prestasi yang sangat baik berkat pendekatan invidual dan yang berbeda.