Translate

Rabu, 05 November 2014

KURIKULUM, PENDEKATAN, STRATEGI, METODE PEMBELAJARAN DAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK



A.      Pendahuluan
Secara etimologi kurikulum berasal kata curese atau currerre yang berarti jumlah yang ditempuh. Dalam bahasa latin kurikulum berarti berlari cepat. Kurikulum adalah kegiatan belajar mengajar yang mencakup di dalam maupun di luar kelas.
Kementerian Pendidikan Republik Indonesia mengharapkan lembaga pendidikan di Indonesia mampu mengimplementasikan kurikulum terbaru ini karena kurikulum ini merupakan penyempurna dari kurikulum-kurikulum sebelumnya, meskipun tidak di pungkiri akan muncul kembali kurikulum-kurikulum terbaru.

Kurikulum ini dinamakan kurikulum 2013 yang mana proses pembelajarannya menekankan keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.
Perubahan Kurikulum ini sudah  merupakan ritual (government orders not educational order) sistem Pendidikan Indonesia.  Belum sampai tuntas kurikulum satu di implementasikan, sudah harus diganti dengan kurikulum yang baru.

Latar belakang pentingnya penerapan kurikulum 2013, antaralain akhlak generasi muda yang semakin brutal: tidak jujur, tidak disiplin, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak yang mulai sering tampak di Indonesia. Disamping isu moral, juga dikemukakan isu ekonomi, yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan pangan Indonesia. Sebenarnya ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu demografi-jumlah penduduk yang meledak harus bisa terserap pasar, menurut mendikbud dulu, Moh. Nuh.

Dalam kurikulum 2013, pelajaran IPA diajarkan integrative science studies yang berorientasi aplikatif, mengembangkan kemampuan berfikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, mengembangkan sikap peduli dan bertanggung jawab pada lingkungan alam. Pada pelajaran bahasa Inggris untuk SD dihapus.  Teknologi informasi dan Komunikasi di jenjang SMP dan SMA dihapus.  Menurut Staf Ahli Kemendikbud Prof. Dr. Kacung Marijan, Indonesia mengalami masalah pendidikan yang kompleks. Selain angka putus sekolah, pendidikan di Indonesia juga menghadapi berbagai masalah lain. Masalah utama pendidikan di Indonesia adalah kualitas guru yang masih rendah, kualitas kurikulum yang belum standar, dan kualitas infrastruktur yang belum memadai.

Dari dulu hingga sekarang masalah infrastruktur pendidikan menjadi momok tersendiri bagi pendidikan di Indonesia. Hal ini dikarenakan masih banyaknya sekolah-sekolah yang belum dan lambat menerima bantuan untuk perbaikan dan pembangunan sekolah yang rusak atau tidak layak yang tak kunjung selesai. Apalagi bantuan perangkat pendukung pembelajaran seperti alat peraga, alat-alat laboratorium, perangkat IT dan sebagainya masih tidak merata bahkan untuk pendidikan dasar (baca SD) sepertinya ‘dianak tirikan’ padahal keberhasilan pendidikan di tingkat dasar merupakan penentu pendidikan tingkat selanjutnya.

Berdasarkan data Kemendiknas, saat ini Indonesia memiliki 899.016 ruang kelas SD namun sebanyak 293.098 (32,6%) dalam kondisi rusak. Sementara pada tingkat SMP, saat ini Indonesia memiliki 298.268 ruang kelas namun ruang kelas dalam kondisi rusak mencapai 125.320 (42%). Dari segi kualifikasi pendidikan, dari 2,92 juta guru baru sekitar 51% yang berpendidikan S-1 atau lebih, sisanya belum berpendidikan S-1. Begitu juga dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5% guru yang memenuhi syarat sertifikasi sedangkan 861.670 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Indonesia tidak cukup hanya dengan mengubah kurikulum itu sendiri. Sebagus apapun kurikulum yang akan diterapkan, jika tidak diimbangi dengan infrastuktur yang memadai, kualitas pengajar yang baik, dan akses pendidikan yang mudah bagi semua kalangan, maka kualitas pendidikan Indonesia tidak akan mengalami perubahan.

1. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach), dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
1.       Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.       Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.       Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.       Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1.       Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.       Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.       Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.       Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
2. Strategi Pembelajaran
Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu exposition-discovery learning dan group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

3. Metode Pembelajaran
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran (http://soalpendidikan.blogspot.com)

yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran.


B. Pembelajaran Saintifik
1. Pengertian Pembelajaran saintifik
¨     Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran уаnɡ mengadopsi langkah-langkah saintis ԁаƖаm membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Develop pembelajaran уаnɡ diperlukan аԁаƖаh уаnɡ memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “implication οf investigation” ԁаn kemampuan berpikir kreatif siswa (Alfred De Vito, 1989)

¨     Untυk memperkuat pendekatan ilmiah (methodical), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), ԁаn tematik (ԁаƖаm suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/investigation culture). Untυk mendorong kemampuan peserta didik υntυk menghasilkan karya kontekstual, bаіk hаνе fun maupun kelompok maka ѕаnɡаt disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran уаnɡ menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (machinate based culture). (Permendikbud Thumbs down 65/2013).

2. Langkah Pembelajaran Saintifik
- Mengamati
- Menanya
- Mencoba
- Menalar
- Menjaring

3. Kegiatan aktivitas belajar
-         mengamati (observing)
-         melihat, mengamati, membaca, mendengar, menyimak (tanpa ԁаn ԁеnɡаn alat)
-         menanya (questioning)
-         mengajukan pertanyaan ԁаrі уаnɡ faktual ѕаmраі kе уаnɡ bersiat hipotesis
-         diawali ԁеnɡаn bimbingan intellectual ѕаmраі ԁеnɡаn mandiri (menjadi suatu kebiasaan)
-         pengumpulan fakta (experimenting)
-         menentukan fakta уаnɡ diperlukan ԁаrі pertanyaan уаnɡ diajukan
-         menentukan sumber fakta (benda, dokumen, buku, ekperimen)
-         mengumpulkan fakta
-         mengasosiasi (associating)
-         menganalisis fakta ԁаƖаm bentuk mеmbυаt kategori, menentukan hubungan fakta dan kategori
-         menyimpulkan ԁаrі hasil analisis fakta dimulai ԁаrі shapeless – uni organize - multi organize - complicated organize
-         mengkomunikasikan (communicating)
-         menyampaikan hasil konseptualisasi ԁаƖаm bentuk lisan, tulisan, diagram, bagan, gambar atau media lainnya

Manfaat pembelajaran tematik diantaranya :
1.       Menggabungkan beberapa kompetensi dasar, indikator, dan isi mata pelajaran karena tumpang tindih materi (padahal selama ini guru tidak merasa menyampaikan materi tumpang tindih dan berulang antara mapel yang satu dengan lainnya) dapat dikurangi bahkan dihilangkan,
2.       Isi dan materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat,
3.       Pembelajaran menjadi utuh karena siswa akan mendapat proses/materi yang tidak terpecah-pecah.
4.       Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.

Kekurangan pembelajaran tematik (melalui Kurikulum 2013) diantaranya :
1.       Guru dituntut memiliki keterampilan yang tinggi padahal tidak semua guru memiliki keterampilan seperti yang diharapkan,
2.       Tidak setiap guru mampu mengintegrasikan kurikulum dengan konsep-konsep yang ada pada mata pelajaran secara tepat. Tetapi itu semua sudah menjadi konsekuensi bagi seorang pendidik yang harus selalu memperbaharui tata cara dalam penyampaikan materi kepada siswa.
3.       Tema tidak mewakili seluruh segi kehidupan yang ada.
4.       Kaburnya ciri khas disiplin ilmu.
5.       Sangat menyita waktu guru untuk menyiapkan materi
6.       Negara (pemerintah) belum siap untuk memfasilitasi perangkat-perangkat pendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkannya.
7.       Men’tabu’kan hafalan, sedangkan bagaimana kita dapat mengetahui, mengingat, mengerti, memahami, mengulang, dan menerapkan bila kita tidak ingat sesuatu ? 
@ raka
(disarikan dari berbagai sumber )

Selasa, 04 November 2014

TEMATIK OH TEMATIK



A.     Pendahuluan

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sekolah Dasar merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Sekolah Dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006)
Implikasi diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 32 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan ialah perubahan model pendekatan pembelajaran yang dilakukan di Sekolah Dasar. Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan pembelajaran tematik terpadu atau yang seringkali disebut sebagai tematik integratif. Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran dalam berbagai tema. Pendekatan pembelajaran ini digunakan untuk seluruh kelas pada sekolah dasar. Pembelajaran dengan pendekatan tematik ini mencakup seluruh kompetensi mata pelajaran yaitu: PPKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Matematika, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Seni Budaya dan Prakarya kecuali mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Kompetensi mata pelajaran IPA pada kelas I – III diintegrasikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, sedangkan untuk mata pelajaran IPS diintegrasikan ke mata pelajaran Bahasa Indonesia, PPKN dan Matematika. Kompetensi dasar IPA dan IPS di kelas IV-VI masing-masing berdiri sendiri.
Pendekatan ini dimaksudkan agar peserta didik tidak belajar secara parsial sehingga pembelajaran dapat memberikan makna yang utuh pada peserta didik seperti yang tercermin pada berbagai tema yang tersedia. Tematik terpadu disusun berdasarkan berbagai proses integrasi yaitu integrasi intra-disipliner, inter-disipliner, multi-disipliner dan trans-disipliner.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 ditegaskan oleh Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 diupdate dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan bahwa :  “....ialah perubahan model pendekatan pembelajaran yang dilakukan di Sekolah Dasar. Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan pembelajaran tematik terpadu atau yang seringkali disebut sebagai tematik integratif. Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran dalam berbagai tema (Buku Pedoman pembelajaran tematik Pelaksanaan pendekat-an pembelajaran tematik terpadu pada pelaksanaan Kurikulum 2013 halaman paragraf 1, 2, dan 3).

B.     Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran terpadu didefinisikan sebagai pembelajaran yang menghubungkan berbagai gagasan, konsep, keterampilan, sikap, dan nilai, baik antar mata pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran.Pembelajaran tematik memberi penekanan pada pemilihan suatu tema yang spesifik yang sesuai dengan materi pelajaran, untuk mengajar satu atau beberapa konsep yang memadukan berbagai informasi.
Pembelajaran tematik berdasar pada filsafat konstruktivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan yang dimiliki peserta didik merupakan hasil bentukan peserta didik sendiri. Peserta didik membentuk pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan, bukan hasil bentukan orang lain. Proses pembentukan pengetahuan tersebut berlangsung secara terus menerus sehingga pengetahuan yang dimiliki peserta didik menjadi semakin lengkap.
Pembelajaran tematik menekankan pada keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar peserta didik. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu peserta didik dalam membentuk pengetahuannya, karena sesuai dengan tahap perkembangannya peserta didik yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).
Ciri-ciri pembelajaran tematik, antara lain:
1.       Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar;
2.       Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik;
3.       Kegiatan belajar dipilih yang bermakna dan berkesan bagi peserta didik sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama;
4.       Memberi penekanan pada keterampilan berpikir peserta didik;
5.       Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui peserta didik dalam lingkungannya; dan
6.       Mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

C. Tujuan
Tujuan dari pembelajaran tematik adalah;
1.       Menghilangkan atau mengurangi terjadinya tumpah tindih materi.
2.       Memudahkan peserta didik untuk melihat hubungan-hubungan yang bermakna
3.       Memudahkan peserta didik untuk memahami materi/konsep secara

D.     Pembelajaran Tematik Terpadu dalam Kurikulum 2013
Pembelajaran tematik terpadu yang diterapkan di SD dalam kurikulum 2013 berlandaskan pada Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyebutkan, bahwa “Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi, maka prinsip pembelajaran yang digunakan dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu.” Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada SD/MI dilakukan melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik-terpadu dari Kelas I sampai Kelas VI.
1.    Pendekatan pembelajaran tematik terpadu diberikan di sekolah dasar mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI
2.    Pendekatan yang dipergunakan untuk mengintegrasikan kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran yaitu; intra-disipliner, inter-disipliner, multi-disipliner dan trans-disipliner. Intra Disipliner adalah Integrasi dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara utuh dalam setiap mata pelajaran yang integrasikan melalui tema. Inter Disipliner yaitu menggabungkan kompetensi dasar-kompetensi dasar beberapa mata pelajaran agar terkait satu sama lain seperti yang tergambar pada mata pelajaran IPA dan IPS yang diintegrasikan pada berbagai mata pelajaran lain yang sesuai. Hal itu tergambar pada Struktur Kurikulum SD untuk Kelas I-III tidak ada mata pelajaran IPA dan IPS tetapi muatan IPA dan IPS terintegrasi ke mata pelajaran lain terutama Bahasa Indonesia. Multi Disipliner adalah pendekatan tanpa menggabung-kan kompetensi dasar sehingga setiap mapel masih memiliki kompetensi dasarnya sendiri. Gambaran tersebut adalah IPA dan IPS yang berdiri sendiri di kelas IV-VI. Trans Disipliner adalah pendekatan dalam penentuan tema yang mengaitkan berbagai kompetensi dari mata pelajaran dengan permasalahan yang ada di sekitarnya.
3.    Pembelajaran tematik terpadu disusun berdasarkan gabungan berbagai proses integrasi berbagai kompetensi.
4.    Pembelajaran tematik terpadu diperkaya dengan penempatan mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai penghela/alat/media mata pelajaran lain
5.    Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator masing-masing Kompetensi Dasar dari masing-masing mata pelajaran

Pembelajaran tematik terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran yang terdapat pada Kompetensi Dasar (KD) KI-3 dan juga keterampilan yang tergambar pada KD KI-4 dalam suatu proses pembelajaran. Implementasi KD KI-3 dan KD KI-4 diharapkan akan mengembangkan berbagai sikap yang merupakan cerminan dari KI-1 dan KI-2. Melalui pemahaman konsep dan keterampilan secara utuh akan membantu peserta didik dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran tematik terpadu adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Penggunaan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:

1.    Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2.    Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
3.    Peserta didik memahami materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4.    Peserta didik dapat dapat memiliki kompetensi dasar lebih baik, karena mengkaitkan mata pelajaran dengan pengalaman pribadi peserta didik;
5.    Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6.    Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain;
7.    Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Secara pedagogis pembelajaran tematik berdasarkan pada eksplorasi terhadap pengetahuan dan nilai-nilai yang dibelajarkan melalui tema sehingga peserta didik memiliki pemahaman yang utuh. Peserta didik diposisikan sebagai pengeksplorasi sehingga mampu menemukan hubungan-hubungan dan pola-pola yang ada di dunia nyata dalam konteks yang relevan. Pembelajaran tematik dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh melalui proses pembelajaran tematik terpadu ke dalam konteks dunia nyata yang di bawa kedalam proses pembelajaran secara kreatif.

E. Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.    Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.
2.    Pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu nampak. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui tema-tema yang paling dekat dengan kehidupan peserta didik.
3.    Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan berbagai konsep, keterampilan dan sikap.
4.    Sumber belajar tidak terbatas pada buku.
5.    Peserta didik dapat bekerja secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan karakteristik kegiatan yang dilakukan
6.    Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran agar dapat mengakomodasi peserta didik yang memiliki perbedaan tingkat kecerdasan, pengalaman, dan ketertarikan terhadap suatu topik.
7.    Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak dapat dipadukan dapat diajarkan tersendiri.
8.    Memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik (direct experiences) dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak.
(disarikan dari Buku Pedoman Pembelajaran Tematik Kurikulum 2013)

Sampai disini dahulu tulisan singkat dan sederhana dari saya semoga berguna, insyaallah akan di lanjutkan kembali dengan artikel yang kedua dengan judul “DESAIN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU”